Distrik Kiwirok, Kabupaten Pegunungan Bintang
Banyak penduduk Distrik Kiwirok di Kabupaten Pegunungan Bintang masih mengungsi sejak operasi militer tahun 2021 dan terus menghadapi krisis kemanusiaan. Hingga Juli 2025, para pengungsi internal tinggal di kamp-kamp hutan dalam kondisi yang memprihatinkan, menderita berbagai masalah kesehatan, termasuk sakit perut, infeksi mata, masalah gigi, kesulitan pernapasan, malaria, demam, dan berbagai penyakit lainnya. Jumlah korban jiwa di antara para pengungsi internal terus meningkat karena kurangnya perawatan medis yang memadai, pasokan makanan, dan layanan penting, sementara pemerintah daerah gagal mengakui atau menangani krisis kemanusiaan ini. Meskipun tim medis telah berupaya memberikan perawatan terbatas, fasilitas yang tidak memadai dan akses yang terbatas telah membuat warga sipil sangat membutuhkan intervensi kemanusiaan.
Situasi keamanan di Kiwirok masih sangat termiliterisasi dengan enam pos militer yang menampung lebih dari seratus personel keamanan, terdiri dari pasukan khusus militer (Kopassus), pasukan khusus Brigade Mobil (Brimob), dan perwira intelijen. Kehadiran militer yang ekstensif ini, ditambah dengan pengawasan pesawat nirawak dan operasi udara yang terus-menerus, telah menciptakan iklim ketakutan yang terus mendorong penduduk ke tempat persembunyian di hutan tempat mereka hidup dalam trauma yang berkepanjangan. Militerisasi meluas di beberapa distrik di Pegunungan Bintang, dengan penempatan serupa di distrik Oksop, Warasamol, dan Diokmot, melanggengkan siklus pengungsian yang telah berlangsung di kabupaten tersebut sejak tahun 2021.
Pengungsi dari Distrik Kiwirok, Juli 2025

Leave a Reply